Menikmati makanan daerah asal tentu sangat menyenangkan…

Tapi butuh ongkos yang banyak juga kalau tempat asal kita jauh dari tempat tinggal kita saat ini.

Ya ini di sroto (soto untuk sebutan secara umum)banyumas makanan favorit saya…kini saya tk harus pulang kampung untuk bisa menikmatinya…

Ya di Jalan Raya Solo Baru dekat Bunderan kantor Polisi anda akan menemukan warung soto kecil dengan nama warung soto semar.

kurang dari 10.000 rupiah anda bisa menikmati seporsi soto daging serta rasa kangen anda dengan kampung halaman.

Lebih enak lagi ditambah tempe mendoan yang panas.

Biasanya saya kesini bersama keluarga, cucu dan anak-anak saya.

Jadi bagi anda baik inyong banyumas atau bukan, mengapa tidak mencoba makanan khas yang satu ini…..

Selamat mencoba sroto banyumas…..dapatkan sensasi yang beda dari soto-soto daerah lain =)

*foto diatas saya ambil dari google*

contoh proposal seni

Proposal

KOMPOSISI MUSIK

SENGGAK OLAH ALOK

Diajukan dalam rangka Pergelaran Karya Karawitan

Program Hibah Kompetisi (PHK) B-Seni

Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukkan

ISI Surakarta

Oleh:

Muriah Budiarti

NIP: 131285207

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

INSTITUT SENI INDONESIA (ISI)

SURAKARTA

2009

Latar Belakang dan

Gagasan Isi

Karawitan Jawa sebagai salah satu bentuk ekspresi estetik musik masyarakat Jawa hingga mencapai bentuknya yang sekarang, dapat dipastikan telah melalui proses dan  perjalanan yang cukup panjang, serta seleksi yang ketat dari masyarakat pendukungnya. Dalam perjalanan kehidupannya, karawitan Jawa tidak hanya berkembang dan disangga oleh para kaum bangsawan di Kraton, akan tetapi juga berkembang dan disangga oleh kalangan rakyat. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa karawitan Jawa yang hidup sekarang adalah karawitan Jawa yang telah mengalami dialektika dengan berbagai lapis kebudayaan serta dengan berbagai jenis seni lainnya.

Pesindhen adalah istilah yang menunjuk kepada personal atau pelaku; orang yang menjadi peraga, sebagai vokalis utama dalam sajian karawitan; yang kebanyakan peraganya adalah wanita, sehingga istilah sindhen ada yang memberi batasan pengertian: solo vokal puteri yang menyertai karawitan.

Kehadiran seorang pesindhen merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan atau kesuksesan dalam sebuah pertunjukan (karawitan). Melalui kualitas dan profesionalitasnya, seperti karakter, kharisma, virtuositas serta daya tariknya seorang pesindhen mampu menghidupkan sebuah pertunjukan. Realitas empirik menunjukkan, bahwa hampir di setiap pertunjukan, baik karawitan konser maupun sebagai karawitan pertunjukan wayang dan sebagainya, kehadiran pesindhen cenderung menjadi fokus perhatian khalayak.

Sindhenan adalah materi vokal yang memuat garap ricikan yang di dalamnya terkandung unsur-unsur yang harus diolah dan diterjemahkan lewat bahasa musikal, unsur-unsur itu adalah teks dan lagu.

Dalam Karawitan Banyumasan, sindhenan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Sindhenan Umum dan Sindhenan Khusus. Sindhenan Umum atau Sindhenan Srambahan biasanya digunakan untuk nyindheni semua gendhing dengan menggunakan cakepan wangsalan, abonabon atau isèn-isèn dan parikan, sedangkan Sindhenan Khusus adalah lagu sindhenan atau cakepan yang hanya dapat digunakan untuk nyindheni gendhing tertentu.

Sindhenan dalam gendhing-gendhing Banyumasan mempunyai unsur penting yang berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Unsur-unsur penting tersebut, yaitu unsur teks yang meliputi wangsalan, abon-abon/isèn-isèn, parikan, senggakan, macapat, sekar ageng, sekar tengahan, serta sekar bebas dan unsur lagu yang meliputi irama, laras, cengkok, dan pathet.

Teks berarti cakepan, sastra yang dapat ditafsir sesuai pemahaman dan kepentingan masing-masing pengguna (tafsir ganda). Pada umumnya, maksud lagu suatu sindhenan terwadahi dalam bentuk cakepan (teks) yang dapat dipilih dari beberapa alternatif karya sastra yang tersedia. Cakepan yang biasa diguna­kan di antaranya wangsalan, parikan, abon-abon atau isèn-isèn, senggakan, macapat, sekar tengahan, sekar ageng, dan cakepan khusus. Dalam sajian Sindhenan Gendhing Banyumasan cakepan yang digunakan isinya ada yang bertema: pendidikan, pertanian, kehidupan berumah tangga, petunjuk-petunjuk yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, peristiwa-peristiwa dan situasi di sekitar pentas. Berbagai persoalan dan permasalahan tersebut diungkapkan dalam bentuk wangsalan, parikan, pepantunan dan senggakan.  Dari sekian cakepan yang tersedia tidak diterapkan sekaligus dalam satu sajian gendhing. Akan tetapi diterapkan sesuai dengan jenis sindhenan yang masing-masing sindhenan memiliki dasar-dasar penggarapan yang berbeda.

Wangsalan adalah suatu kalimat yang terdiri dari dua frase, di dalamnya mengandung teka-teki, yang jawabannya sekaligus terdapat pada kalimat tersebut. Oleh karena sifatnya teka-teki, maka di dalam mencari jawabannya harus menghubungkan kata-kata yang terdapat di dalam kalimat tersebut.[1] S. Padmosoekotjo dalam bukunya yang berjudul “Ngèngrèngan Kasusastran Djawa II” menyebutkan, bahwa secara garis besar wangsalan dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu: wangsalan lamba, wangsalan rangkep (camboran), wangsalan memet, dan wangsalan padintenan.[2] Dari keempat jenis wangsalan tersebut yang biasa digunakan dalam lagu sindhenan Banyumasan adalah jenis wangsalan lamba dan rangkep. Wangsalan lamba, yaitu jenis wangsalan yang inti jawabannya hanya satu, sedangkan wangsalan rangkep adalah jenis wangsalan yang isi jawabannya lebih dari satu, terdiri dari dua frase, frase pertama berisi pertanyaan dan frase yang kedua berisi jawabannya.

Di dalam sindhenan, abon-abon juga disebut isèn isèn yang berfungsi sebagai selingan atau pelengkap. Di dalam kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), abon-abon artinya ubarampé slametan.[3] Kata ubarampé berarti kelengkapan atau pelengkap. Abon-abon merupakan teks yang ber­wujud kata atau kata-kata yang tidak ada hubungan arti kalimat dengan teks pokok (sindhenan), sehingga dapat dikatakan bahwa kedudukannya hanya sebagai selingan. Dengan demikian kata abon-abon yang ada dalam kamus Bahasa Jawa dengan maksud yang ada pada lagu sindhenan memiliki kesamaan arti, yaitu sesuatu yang berfungsi sebagai pelengkap dan sebagai teks tambahan agar dapat mencukupi kebutuhan untuk ukuran satu kalimat lagu, atau satu bagian gendhing.[4]

Parikan adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua frase antara akhir kata frase pertama dan ke dua mempunyai kesamaan bunyi. Sebagian besar gendhing-gendhing Banyumasan menggunakan parikan dan wangsalan. Selain hal tersebut ada juga beberapa gendhing yang menggunakan pepantunan.

Senggakan memiliki kata dasar senggak yang memiliki arti njuwara gijak aramé mbarengi (njamboengi) oenining gamelan (sinden).[5] Dari cara penyajiannya, senggakan di dalam karawitan memiliki kesan rasa ramé. Dengan demikian senggakan dapat diartikan vokal bersama atau tunggal dengan menggunakan cakep­an parikan dan atau serangkaian kata-kata (terkadang tanpa makna) yang berfungsi untuk mendukung terwujudnya suasana ramai dalam sajian suatu gendhing. Senggakan ini bersifat sangat lentur, artinya bisa ditafsir oleh siapa saja dengan pengertian apa saja asal logis dan kontekstual. Kedudukan senggakan di dalam gendhing-gendhing Banyumasan sangat penting mengingat gendhing-gendhing Banyumasan merupakan gendhing vokal, sehingga tanpa senggak akan terasa sepi.

Senggakan yang digunakan dalam gendhing-gendhing Banyumasan adalah berupa senggakan tanpa lagu, senggakan yang mengikuti pola tabuhan kendhang dan senggakan pematut. Senggakan tanpa lagu biasanya diterapkan pada sajian irama lancar dengan mengikuti ritme sabetan balungan. Cakepan yang digunakan pada umumnya berupa suku kata-suku kata seperti “ut, ho’, oh, eh, ah, yah” dan lain-lain.

Senggakan yang mengikuti pola tabuhan kendhang penerapannya sewaktu-waktu menyesuaikan pola tabuhan kendhang. Cakepan yang digunakan biasanya berupa frase tertentu seperti “telulululu, ho’ yah-ho’ yah, hae-hae, domak tingting jos, esod-esod, eh-oh-eh, ep-op-ep” dan lain-lain.

Adapun senggakan pematut diterapkan pada irama lancar dan irama dadi yang pada umumnya menggunakan cakepandhowa lolo loing”. Selain senggakan-senggakan di atas ada juga interaktif atau dialog antara sindhen dengan penggerong atau pengrawit.

Tembang Macapat juga sering disebut sekar Macapat, sekar Alit, atau sekar Dhagelan. Karsana H. Saputra dalam bukunya yang berjudul Sekar Macapat menyebutkan, macapat adalah suatu bentuk puisi Jawa yang menggunakan bahasa Jawa baru, diikat oleh persajakan yang meliputi guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu.[6] Jadi Sekar macapat atau tembang macapat dapat diartikan sebagai salah satu bentuk sekar (tembang) yang menggunakan aturan guru wilangan dan guru lagu yang sudah ditentukan.[7] Masing-masing jenis tembang macapat memiliki jumlah gatra yang berbeda-beda dan untuk membedakan jenis sekar macapat antara yang satu dengan lainnya dapat dilihat dari jumlah gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

Sekar Tengahan yang digunakan dalam sindhenan pada sajian gendhing dapat dijumpai pada gendhinggendhing sekar. Sekar tengahan adalah salah satu bentuk tembang waosan kekawin yang memakai sekar (tembang/puisi) yang di dalamnya tidak terdapat aturan lampah dan pedhotan. Jenis sekar ini juga disebut tembang tri lagu, yaitu tembang waosan ketiga.[8] Salah satu teks yang digunakan dalam lagu sindhenan adalah sekar tengahan. Sekar tengahan yang digunakan untuk bentuk sindhenan dapat dijumpai pada sajian gendhing Banyumasan pada bentuk andhegan seperti pada gendhing Sukabalen. Yakni bentuk vokal tunggal yang disajikan di tengah-tengah sajian gendhing dengan tidak terikat oleh aturan-aturan lampah dan pedhotan secara ketat, sehingga mampu mengungkap makna teks secara estetik sampai menuju pada esensi kesan yang disampaikan.

Sekar Ageng adalah salah satu bentuk tembang waosan kekawin atau disebut juga maca salagu dan rolagu yang menggunakan sekar (tembang/puisi) yang di dalamnya terdapat aturan lampah dan pedhotan.[9] Biasa digunakan untuk bawa gendhing, utamanya gendhing Surakartan dan Yogyakartan.

Sekar Bebas adalah bentuk sekar (tembang) yang tidak terikat dengan guru lagu, guru wilangan, lampah, dan pedhotan. Jenis sekar ini disusun bebas hanya untuk keperluan garap sindhenan khusus pada gendhing-gendhing yang disajikan. Di Banyumas teks bebas ini terdapat pada Gendhing Pamijen dan Guritan seperti gendhing Kembang Glepang, Randha Nunut, Ilo Gondhang, Tlutur Guritan, dan Sekar Gadhung.

Di samping itu, unsur kedua dari sindhenan yang tidak kalah pentingnya yaitu “lagu” yang terdiri dari irama, laras, cengkok, dan pathet.

Melihat pemaparan singkat tentang permasalahan pelaksanaan sindhenan dalam karawitan Banyumasan tersebut di atas, sangat menarik dan menantang penyusun untuk mendalami dan sekaligus ingin mengetahui lebih lanjut ada apa sebenarnya dibalik sindhenan yang unik ini. Di samping itu nilai-nilai estetika yang terkandung dalam sindhenan khususnya senggakan ini menjadi stimulus dan inspirasi untuk menghadirkannya kembali dalam suatu bentuk ciptaan baru.

Pengalaman-pengalaman dalam menggeluti dunia kepseindhenan, akhirnya dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk melahirkan suatu bentuk susunan karya komposisi baru yang diberi judul ”Senggak Olah Alok” yang berarti mengolah, dan  menggarap senggakan.

Ide Garapan dan

Alat yang Digunakan

Sebuah gagasan ide kalau tidak ada media atau sarana sebagai alat ungkapnya, niscaya gagasan itu tidak akan dapat terealisasi hingga dapat dikomunikasikan dengan para penikmatnya. Oleh karenanya setelah mendapatkan gagasan awal untuk mengungkapkan dan menghadirkan kembali unsur-unsur musikal dari nilai estetika senggakan ke dalam suatu susunan baru, maka timbul niatan atau ide untuk memilih media (perangkat gamelan) yang cocok dan sesuai dengan harapan penyusun.

Dalam penggarapan ide ini, penyusun menggunakan perangkat gamelan Calung sebagai sarana untuk mewadahi gagasan tersebut, karena dalam perangkat ini garap semua alat ricikan (instrumen) sangat dominan dan diperkirakan dapat sejalur dengan gagasan isi. Dalam mewujudkan gagasan tersebut, penyusun tidak menutup diri dari persentuhan dengan sistem garap (gaya) perangkat gamelan yang lain yang secara langsung maupun tidak langsung penyusun pelajari sejak kecil, serta penggunaan alat (non konvensional) seperti kentongan, klinthingan, trebang dan lain sebagainya. Pengalaman itu dapat menambah wawasan yang lebih luas dan cukup memberi sumbangan yang akhirnya dapat memperkaya garapan ini sesuai dengan kemantapan rasa penyusun.

Hal-hal lain yang menjadi pertimbangan dalam mewujudkan gagasan isi adalah pembuatan alur susunan komposisi lewat pentahapan bagian beserta urut-urutan sajiannya. Sudah barang tentu dalam penyusunan tahapan ini dengan sengaja mempertimbangkan suasana-suasana yang dihasilkan serta keragaman garap dari keseluruhan sajian.

Demikian juga dengan penggarapan unsur-unsur musikalitas seperti melodi, tempo, volume, dan dinamikanya selalu mempertimbangan keragaman warna maupun bentuk. Hal ini diakui secara jujur, penyusunan gending ini memang berangkat dari elemen-elemen tradisi, walaupun ada usaha untuk pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada, baik itu dalam hal melodi, tempo, volume, serta dalam penggarapan dinamikanya. Hal lain yang tidak kalah pentinganya dalam penggarapan ini adalah upaya pemanfaatan teknik-teknik atau pola tabuhan setiap instrumen yang digunakan serta diupayakan untuk mencari teknik-teknik lain dan pengembangan dari yang sudah ada.

Rancang Bangun

Pada dasarnya Komposisi ini adalah merupakan satu kesatuan garap musikal yang diwadahi dalam perangkat gamelan Calung. Sebagai suatu jenis repertoar komposisi tradisi baru, maka bentuk bangunan karya ini  juga secara sengaja dibuat untuk tidak jauh menyimpang dari konvensi tatanan yang berlaku dalam karawitan tradisi.

Hal-hal yang lain seperti penggarapan unsur-unsur musikalnya dalam penyusunan komposisi ini juga menggunakan pendekatan kaidah-kaidah yang berlaku dalam tradisi. Seperti dalam hal penggarapan melodi, permainan tempo, dan volume, serta bentuk-bentuk dinamika menggunakan ala tradisi. Pemanfaatan atau fungsi-fungsi instrumen juga tidak jauh berbeda dengan fungsi instumen dalam gending tradisi.

Dalam bentuk atau susunan (struktur), karya ini menggunakan susunan seperti yang terjadi dalam gending-gending tradisi lainnya yang diawali dengan pembukaan (kepala), lalu ada bagian bodi (batang tubuh), dan ada bagian akhir (kaki).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, bentuk atau susunan bangunan karya ini masih dalam prime gending-gending tradisi. Namun demikian, dalam susunan gending ini tidak sama persis dengan susunan komosisi tradisi yang sudah ada. Akan tetapi untuk dapat membedakannya dengan karya-karya yang lain, maka komposisi ini sengaja disusun dengan menggunakan rangkaian bagian-bagian bangunan yang dipandang cocok dengan selera penyusun. Bentuk susunan komposisi ini juga dengan mempertimbangkan alur lagu maupun dramatisasi suasan yang dapat dihasil lewat tataan nada-nada pada setiap bagiannya.

Adapun bentuk susunan (rancang bangun) Senggak Olah Alok adalah terdiri dari bagian-bagian seperti berikut.

Bagian I, pada bagian sebagai awal (introduction) dari sajian karya ini, diusahakan sedapat mungkin untuk memberi semacam ‘gebrakan’ sebagai tanda sajian gending dimulai. Oleh sebab itu, untuk dapat menarik perhatian penonton, maka dipilihkan permainan melodi yang menarik dan penampilan volume, tempo, dan dinamika yang dinamis dan variatif.

Bagian II, disajikan setelah gebrakan awal untuk mengawali bagian depan (kepala) dari inti gending. Pada bagian ini didominasi oleh bentuk permainan lagu yang melodius, serta disajikan dalam tempo yang sangat lambat dan volume yang lirih pertanda permulaan suatu kehidupan (diibaratkan). Setelah beberapa kali pengulangan melodi, baru ada semacam dinamika kehidupan dengan menaikan tempo  dan volume permainan.

Bagian III, pada bagian ini mengibaratkan sudah mulai ada aktivitas dalam suatu kehidupan. Maka mulai tampak permainan melodi, tempo, dan volume serta dinamika yang sudah bermunculan. Ibarat hari sudah semakin siang, maka berbagai kegiatan dalam kehidupan ini sudah berjalan. Hal ini tampak pada garapan melodi yang agak panjang dan dinamika sudah mulai menghiasi bagian ini.

Bagian IV, pada bagian ini merupakan puncak (klimak) dari susunan gending ini. Pada saat ini sudah terasa dan terjadi puncak aktivitas dalam suatu kehidupan. Maka situasi itu ditampakan lewat permainan melodi, tempo, dan volume serta dinamika yang bervariasi. Ada sub-sub bagian tampak dalam fase ini, hal ini dibuat untuk dapat memperkaya rasa dan keindahan serta penampilan ragam bentuk yang variatif. Begitu juga dengan adanya penggarapan pemindahan penggunaan nada-nada yang berbeda tapi dalam bentuk yang sama dengan tujuan untuk dapat memberi suasana dan nuansa yang berbeda akan tetapi masih dalam suatu bingkai yang sama.

Bagian V, pada bagian ini yang menjadi anti-klimak dari susunan gending ini, artinya pada saat ini sudah mulai terasa adanya penggarapan semacam suasana tenang, damai, dan rileks untuk dapat melepas ketegangan setelah bermain sejak dari awal sampai dengan bagian klimak. Oleh karena itu, pada bagian ini mulai ada semacam mempersiapkan untuk mengakhiri perjalanan dengan menampakan permainan melodi yang mengalun dan tenang, tempo yang lamban, serta permainan volume serta dinamika yang agak melemah. Ada sub-sub bagian dalam fase ini agar tetap dapat menampilkan keragaman rasa dan keindahan. Demikian juga dengan penggarapan  sub-sub bagian dalam bagian ini diupayakan untuk dapat memberi berbagai ragam suasana sehingga akhirnya akan masuk pada bagian akhir.

Bagian VI, pada bagian yang merupakan bagian akhir (ending) dari susunan gending ini, mulai tampak permainan melodi sejenis mars, tempo yang cepat, dan permainan volume serta dinamika yang rancak. Ada berbagai variasi dalam bagian yang pendek-pendek dimainkan dengan berulang-ulang. Hal ini untuk dapat memberi kesan bahwa  kehidupan itu akan segera berakhir dan berhenti sampai disini.

Pendukung Karya

Untuk mewujudkan karya ini diperlukan para pendukung (musisi) yang memiliki kompetensi yang cukup untuk mewadahi ide penyusun. Adapun pemain atau musisi yang dibutuhkan sebanyak 12 orang.

Referensi

Kasana H. Saputra, 2001. Sekar Macapat. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Muriah Budiarti, 2006. “Kehadiran Suryati Dalam Dunia Kepesindhenan Gaya Banyumas”. Tesis S-2, Program Pascasarjan Institut Seni Indonesia Surakarta.

Purbatjaraka, 1954. Kapustakan Jawi. Jakarta: Jambatan.

S. Padmosoekotjo, 1960.  Ngèngrèngan Kasusastran Djawa II, Yogyakarta: Hien Hoo Sing.

Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta, 2000. Kamus Basa Jawa, (Bausastra Jawa), Yogyakarta: Kanisius.

Waluyo, 1991. “Dokumentasi Bawa Gawan Gendhing Bapak Sastro Tugiyo”, Laporan Penelitian STSI Surakarta.

Waridi, 2002. “Jineman Uler Kambang: Tinjauan Dari Beberapa Segi”, dalam Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, Edisi April Volume 1 no. 1.

W.J.S. Poerwadarminta, 1939. BAOESASTRA DJAWA. Batavia: J.B. Walter Uitgevers – Maatschappij n.v. Groningen.


[1]Waridi, “Jineman Uler Kambang: Tinjauan Dari Beberapa Segi”, dalam Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni (Edisi April Volume 1 no. 1, 2002),          127-128.

[2]S. Padmosoekotjo, Ngèngrèngan Kasusastran Djawa II (Yogyakarta: Hien Hoo Sing, 1960), 6.

[3]Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta, Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), (Yogyakarta: Kanisius,  2000), 2.

[4]Biasanya untuk mencukupi kebutuhan dengan ukuran panjang gendhing satu kalimat lagu gong.

[5] W.J.S. Poerwadarminta, BAOESASTRA DJAWA (Batavia: J.B. Walter Uitgevers – Maatschappij n.v. Groningen, 1939), 557.

[6] Kasana H. Saputra, Sekar Macapat (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2001), 12.

[7]Guru wilangan adalah jumlah suku kata pada setiap barisnya yang selanjutnya disebut gatra. Sedangkan guru lagu adalah bunyi huruf hidup (a,e, i, o, ) yang terletak pada akhir gatra.

[8]Waluyo, “Dokumentasi Bawa Gawan Gendhing Bapak Sastro Tugiyo” (Laporan Penelitian STSI Surakarta, 1991), 38.

[9]Purbatjaraka, Kapustakan Jawi (Jakarta: Jambatan, 1954), 16.

hello everybody….

Selamat Datang di Blog saya….

“Biyunge” dalam keseharian dan seni…..

cekidot (baca: chek it out)

Hello world!

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. Ini adalah halaman pertama posting. Revisi atau hapus halaman ini, kemudian silahkan ngeblog dan saatnya ISI Surakarta mendunia lewat dunia maya….

UPT. Pusat Informatika (PUSTIKA) ISI Surakarta